GLAM Day 2: Dari Tradisi Lisan ke Ruang Digital, Menjaga Warisan Minangkabau di Tengah Arus Zaman

GLAM Day 2: Dari Tradisi Lisan ke Ruang Digital, Menjaga Warisan Minangkabau di Tengah Arus Zaman

Padang, 13 Mei 2026 — Hari kedua kegiatan GLAM 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan (IPK) Sekolah Vokasi Universitas Negeri Padang berlangsung hangat dan penuh antusiasme di Aula Fakultas MIPA UNP. Mengangkat tema pelestarian budaya Minangkabau di era digital, kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan tradisi, ilmu pengetahuan, dan peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya.

Talkshow menghadirkan Dr. Eka Melgalia, S.Hum., M.Hum. sebagai narasumber dengan moderator Callizki Chesa. Dalam pemaparannya, Dr. Eka menekankan bahwa sebagian besar warisan budaya Minangkabau hidup melalui tradisi lisan dan praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi sekaligus cara budaya diwariskan.

Ia menjelaskan bahwa digitalisasi budaya tidak cukup hanya sebatas dokumentasi foto, video, atau arsip digital. Lebih dari itu, pelestarian budaya membutuhkan proses kurasi dan interpretasi agar nilai serta makna di balik tradisi tetap dapat dipahami oleh generasi masa kini. “Digitalisasi bukan hanya memindahkan budaya ke layar, tetapi bagaimana budaya itu tetap hidup dan dimaknai,” ujarnya.

Tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, GLAM 2026 hari kedua juga dimeriahkan dengan Lomba Solo Song Minangkabau yang menampilkan berbagai lagu daerah penuh penghayatan dan nuansa budaya. Penampilan para peserta menjadi bukti bahwa seni tetap menjadi salah satu cara paling kuat dalam menjaga identitas budaya Minangkabau di tengah modernisasi. Perlombaan tersebut dinilai langsung oleh dewan juri, yaitu Dr. Ardoni, M.Si., Desriyeni, S.Sos., M.I.Kom., dan Jeihan Nabila, S.IIP., M.I.Kom.. Suasana acara semakin semarak ketika para peserta membawakan lagu-lagu Minang dengan ciri khas dan interpretasi masing-masing.

GLAM 2026 hari kedua menutup rangkaiannya dengan meninggalkan makna lebih dari sekadar seremoni. Jika hari pertama menunjukkan kekuatan budaya Minangkabau melalui seni dan diplomasi budaya, maka hari kedua menegaskan bahwa warisan budaya hanya akan bertahan apabila dipahami, dimaknai, dan diwariskan secara autentik. Melalui perpaduan diskusi akademik dan pertunjukan seni, GLAM 2026 menjadi pengingat bahwa budaya tidak cukup hanya disimpan sebagai arsip digital, tetapi juga harus terus dihidupkan di tengah perubahan zaman. Sejalan dengan falsafah Minangkabau, “alam takambang jadi guru,” perkembangan era digital menjadi ruang belajar untuk menjaga tradisi tanpa kehilangan jati dirinya. (NF)