MANILA, FILIPINA — Dosen Program Studi Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan (IPK), Sekolah Vokasi Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Yona Primadesi, M.Hum., hadir dalam rangkaian Manila International Book Fair (MIBF) 2026 yang berlangsung di SMX Convention Center, Manila, Filipina.
Kehadiran Yona dalam ajang perbukuan internasional tersebut menjadi bagian dari kiprahnya sebagai akademisi dan praktisi di bidang literatur anak dan remaja serta literasi anak di Indonesia. Ia hadir dalam sesi talk show bertajuk “Changing Radio Station” pada 13 September, bersama penulis muda Indonesia, Abinaya Ghina Jamela, yang bukunya Aku Radio bagi Mamaku baru saja diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh penerbit Filipina, Isang Balangay.
Sesi yang dimulai pada pukul 10.00 waktu Manila tersebut dipandu oleh Joel Donato Ching Jacob dan berlangsung selama kurang lebih 60 menit. Diskusi membahas perjalanan sebuah karya sastra anak dari Indonesia hingga menjangkau pembaca internasional, sekaligus membuka ruang percakapan mengenai perkembangan literatur anak, pengalaman membaca, dan ekosistem literasi anak di Indonesia.
Membawa Perspektif Literatur Anak Indonesia ke Forum Internasional
Dalam kapasitasnya sebagai akademisi dan praktisi, Yona Primadesi tidak hanya berbicara mengenai sebuah karya secara tekstual, tetapi juga membawa perspektif yang lebih luas mengenai literatur anak dan remaja sebagai bagian dari ekosistem literasi.
Literatur anak memiliki posisi penting dalam membangun pengalaman membaca sejak dini. Buku tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk mengenali diri, memahami lingkungan, berinteraksi dengan pengalaman orang lain, serta mengembangkan imajinasi dan kemampuan berpikir kritis.
Perspektif tersebut menjadi semakin relevan ketika karya-karya anak Indonesia mulai diterjemahkan dan beredar di negara lain. Penerjemahan memungkinkan cerita yang lahir dari pengalaman dan konteks budaya Indonesia berjumpa dengan pembaca dari latar budaya yang berbeda.
Melalui forum internasional seperti MIBF, pembicaraan mengenai literatur anak Indonesia juga dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yaitu bagaimana karya anak dan remaja Indonesia dapat berkontribusi dalam percakapan global mengenai anak, keluarga, membaca, dan keberagaman pengalaman budaya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah adanya sejumlah persamaan dalam pengalaman anak-anak di Indonesia dan Filipina. Meskipun tumbuh dalam konteks budaya, bahasa, dan sistem pendidikan yang berbeda, anak-anak di kedua negara sama-sama hidup dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman mereka terhadap buku, membaca, dan informasi.
Yona menyoroti bahwa literasi anak tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari anak. Pengalaman membaca tidak hanya dibentuk oleh sekolah, tetapi juga oleh keluarga, lingkungan sosial, perpustakaan, ketersediaan bahan bacaan, media, serta kesempatan anak untuk berinteraksi dengan cerita dan pengetahuan.
Dalam konteks tersebut, anak tidak seharusnya hanya dipandang sebagai penerima informasi. Anak merupakan individu yang memiliki pengalaman, rasa ingin tahu, imajinasi, dan kemampuan untuk membangun pemaknaan terhadap apa yang mereka baca dan alami.
Persamaan pengalaman tersebut menjadi menarik ketika dibicarakan dalam konteks Indonesia dan Filipina. Kedua negara sama-sama memiliki masyarakat yang beragam secara budaya dan bahasa, dengan tantangan dalam memastikan bahwa anak memiliki akses terhadap bahan bacaan dan lingkungan yang mendukung perkembangan literasi.
Dalam diskusi tersebut, Yona juga menekankan bahwa literasi anak perlu dipahami dalam pengertian yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan memahami teks.
Literasi berkaitan dengan bagaimana anak berinteraksi dengan informasi, memahami pengalaman, mengembangkan bahasa, membangun imajinasi, menyampaikan gagasan, dan menciptakan makna dari berbagai bentuk teks dan lingkungan di sekitarnya.
Karena itu, pendekatan literasi anak membutuhkan keterlibatan berbagai lingkungan. Keluarga, sekolah, perpustakaan, komunitas, dan lingkungan sosial memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan pengalaman literasi yang positif bagi anak.
Perbedaan konteks antara Indonesia dan Filipina kemudian menjadi ruang pembelajaran bersama. Setiap negara memiliki pendekatan, kebijakan, tradisi membaca, serta kondisi sosial yang berbeda. Namun, keduanya menghadapi pertanyaan yang serupa: bagaimana memastikan anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sebagai pembaca yang aktif, memiliki akses terhadap bahan bacaan yang sesuai, dan memperoleh lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.
Pembahasan juga menempatkan literatur anak sebagai bagian penting dalam perkembangan anak. Buku dan cerita dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengenali emosi, memahami hubungan dengan orang lain, melihat berbagai perspektif, serta membangun pemahaman mengenai dirinya dan lingkungan.
Menurut Yona, pendekatan terhadap literatur anak perlu memberikan ruang kepada anak untuk menikmati cerita, bertanya, menafsirkan, dan membangun pendapatnya sendiri. Dengan demikian, pengalaman membaca tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh pesan moral atau mencapai target akademik, tetapi juga menjadi pengalaman personal dan intelektual bagi anak.
Perspektif tersebut relevan bagi pengembangan literasi anak baik di Indonesia maupun Filipina. Ketika anak diberikan kesempatan untuk berinteraksi secara bermakna dengan buku dan cerita, kegiatan membaca dapat menjadi bagian dari proses perkembangan bahasa, sosial, emosional, imajinasi, dan kemampuan berpikir anak.
Kehadiran Yona Primadesi di Manila International Book Fair juga membuka ruang pertukaran perspektif mengenai bagaimana literasi anak dikembangkan di dua negara yang memiliki kedekatan geografis dan sejumlah karakteristik sosial-budaya, tetapi memiliki konteks pendidikan dan kebijakan yang berbeda.
Pertukaran tersebut penting karena pengembangan literasi anak tidak dapat dilakukan dengan satu pendekatan yang berlaku untuk semua konteks. Praktik literasi perlu mempertimbangkan budaya, bahasa, keluarga, lingkungan sosial, karakteristik anak, serta akses terhadap sumber informasi dan bahan bacaan.
Bagi Prodi Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Sekolah Vokasi UNP, isu tersebut memiliki keterkaitan erat dengan bidang keilmuan yang dikembangkan program studi, khususnya dalam pengembangan layanan informasi dan perpustakaan bagi anak, pengelolaan sumber informasi, literasi informasi, serta penguatan peran perpustakaan dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Keterlibatan Yona Primadesi dalam Manila International Book Fair menunjukkan bahwa isu literatur dan literasi anak dapat menjadi bagian dari percakapan akademik dan profesional lintas negara.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan karya dan pengalaman Indonesia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membandingkan pengalaman, menemukan persamaan, memahami perbedaan, dan membangun percakapan baru mengenai anak dan literasi.
Setelah sesi talk show selama 60 menit, kegiatan dilanjutkan dengan sesi book signing bersama Abinaya Ghina Jamela. Kehadiran dan interaksi dengan pembaca Filipina mendapat sambutan yang antusias.
Bagi Prodi IPK Sekolah Vokasi UNP, keterlibatan dalam forum internasional seperti Manila International Book Fair menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus membawa isu literatur anak, literasi anak, dan perkembangan anak Indonesia ke dalam percakapan yang lebih luas di tingkat internasional. (jn)